Sabtu, 30 Juni 2012

Ada Geylang di Muara Bungo


Ada Geylang di Muara Bungo
(versi lain dari Te-We bersama Gol A Gong)

Saya belum pernah ke Geylang, Singapore. Tapi tatkala mas Gol A Gong menyatakan tempat dan bangunan itu mirip pertokoan di kawasan Geylang, saya jadi terusik. Ah, benarkah?
Iseng saya buka situs dari traveler lain, Oiyaa, betul adanya. Mirip sekali.
Geylang versi kota Muara Bungo tersebut terletak di Jalan Dahlia, pusat kota Bungo (6-7 jam perjalanan darat dari kota Jambi).
Pagi itu, sambil relaksasi dan olahraga ringan, kami (saya, Gol A Gong dan Yusnaldi) menyusuri pusat kota Bungo dengan berjalan kaki menuju Jalan Dahlia, lapangan Semagor (sekilas mirip nama makanan Batagor J) dan rumah tua yang jadi markas veteran sekarang.
Ohya, by the way eniwey busway. Before to our topic, saya ingin memperkenalkan bung Yusnaldi ini. Beliau adalah fans Balada Si Roy yang terinspirasi dan termotivasi dari bacaan buku tersebut hingga bela-belain datang dari Pariaman (Sumbar) untuk menjumpai mas Gong di Bungo. Kalau ga salah perjalanan sekitar 8 jam. Bung Yusnaldi bekerja di harian Singgalang dan kebetulan pula senior saya waktu di Unand.
Back to our topic. Mas Gong mengajarkan kepada saya sebagai calon travel writer atau Backpacker atau pelancong yang penulis bahwa ambillah angle (sudut penulisan). Travel writer tidak hanya ‘Melihat’ tapi ‘Menemukan.’ Nah ini, pelajaran berharga bagi saya. Soalnya selama ini, selama perjalanan saya di Jambi saja (sebelum saya dapat ilmu dari mas Gong) hanya sekadar jalan-jalan, refreshing, melihat dan menikmati tanpa menemukan ‘sesuatu’ yang bisa ditulis dan dilaporkan. Hanya itu. Kasihan ya saya J.
Dan dulu, saat saya SMA pas main ke Bungo ini, dan kota ini masih teramat sepi, saya melihat Geylang versi Bungo ini hanya seperti bangunan tua yang tidak ada menariknya sama sekali dan ‘biasa’ saja. Padahal kalau dengan kata ‘ menemukan’ tersebut jelaslah bahwa potensi bangunan bersejarah kota ini elok dan bisa digarap lebih maksimal. Seandainya bangunan ini diperindah lagi dan dibuat lebih rapi (memoles kaki limanya, mengecat tembok yang terkelupas, merehab kayu yang sudah lapuk) niscaya tempat bersejarah ini bisa tetap lestari dan dinikmati oleh orang lokal dan pelancong yang singgah ke Bungo. Dan Geylang itu hadir pula di kota ini, bukan?










Tidak ada komentar:

Posting Komentar